Liturgi sebagai Sarana Mengenal Allah Secara Implisit dan Estetis
Liturgi: Lebih dari Sekadar Ritual
Apa yang terlintas di pikiran kita saat mendengar kata "liturgi"? Sebagian menganggapnya sekedar ritual, kebiasaan, atau kewajiban kaku dalam ibadah. Namun, liturgi sebenarnya jauh lebih dalam dari sekadar formalitas.
Dalam buku The God We Worship: An Exploration of Liturgical Theology, Nicholas Wolterstorff menjelaskan bahwa liturgi adalah "teologi yang implisit". Untuk memahaminya, kita perlu meninjau kembali arti teologi. Secara etimologis, teologi berasal dari bahasa Yunani Theos (Allah) dan Logos (pengetahuan). Jadi, teologi adalah upaya manusia untuk mengenal Allah.
Lantas, mengapa liturgi disebut bersifat implisit? Menurut KBBI, implisit berarti "tersirat" atau dinyatakan secara tidak langsung. Wolterstorff berpendapat bahwa melalui tata cara kita menyembah di gereja, kita sebenarnya sedang menyatakan klaim-klaim teologis tentang siapa Allah itu.
Contoh dalam Praktik
Ambillah contoh standar liturgi Anglikan. Setelah doa umat, rangkaian doa selalu ditutup dengan litani:
“Bapa Maha Pengasih, terimalah doa-doa ini demi Putra-Mu Juruselamat kami, Yesus Kristus.”
Di sini, gereja secara implisit sedang menegaskan klaim tentang Allah yang Maha Pengasih dan peran mediasi Yesus Kristus. Hal serupa tampak dalam gestur fisik. Saat pengakuan dosa, umat duduk atau berlutut sebagai bentuk kontrisi (penyesalan). Namun, setelah imam mengucapkan absolusi, umat berdiri—sebuah simbol estetis bahwa mereka telah dibangkitkan oleh anugerah-Nya.
Keindahan dalam Pengenalan Tuhan
Lebih jauh lagi, liturgi merupakan sarana pengenalan Tuhan yang estetis. Keindahan ini terpancar jelas dalam Book of Common Prayer (Buku Doa Umum), khususnya pada Doa Kerendahan Hati (Humble Access Prayer) sebelum Ekaristi:
“Tuhan Yang Pengasih, kami tidak layak datang dalam perjamuan ini dengan mengandalkan kebenaran kami sendiri, melainkan hanya karena kemurahan-Mu. Kami bahkan tidak layak memungut remah-remah di bawah meja-Mu...”
Diksi seperti "memungut remah-remah" sengaja dipilih bukan hanya untuk keindahan bahasa, tetapi untuk mempertegas kontras antara keberdosaan manusia dan kemuliaan perjamuan kudus tersebut.
Pada akhirnya, liturgi menjadi krusial karena ia bukan sekadar rutinitas. Ia adalah ruang di mana kita berteologi secara implisit melalui tindakan dan keindahan, sekaligus sarana bagi umat untuk menghidupi klaim-klaim tentang Allah secara lebih mendalam.