Drawing from the fall of Jericho in Joshua and Jesus' prophecy of the Temple's destruction in Luke, this reflection reminds us that God's presence is never confined to physical structures or earthly institutions. Instead, the Lord desires to dwell within a redeemed community. Our ultimate hope rests not in fleeting worldly grandeur, but in the living, enduring presence of Christ among His people
Dalam Yosua 6 dan Lukas 21, kita belajar bahwa Tuhan tidak terbatas pada bangunan buatan tangan manusia, melainkan rindu berdiam di tengah umat-Nya. Tempat kediaman Allah yang sejati bukanlah bait lahiriah yang bisa runtuh oleh dosa, melainkan komunitas umat-Nya yang telah ditebus dalam Kristus. Oleh karena itu, pengharapan kita tidak terletak pada lembaga-lembaga duniawi, melainkan pada hadirat Allah yang hidup yang menyertai umat-Nya untuk selama-lamanya.
In a world shaken by war, injustice, economic uncertainty, and moral confusion, it can often seem as though evil holds the throne. Nations rage, leaders fail, and many hearts are filled with fear. Yet the Psalmist calls us to proclaim a greater reality: 'The Lord is King.'
Di tengah dunia yang diguncang oleh peperangan, ketidakadilan, dan krisis, pemazmur memanggil kita untuk memberitakan kenyataan yang lebih agung: 'TUHAN itu Raja!' Allah tidak pernah meninggalkan takhta-Nya; pemerintahan-Nya tetap untuk selama-lamanya. Di dalam Yesus Kristus, kita memiliki Raja yang memahami penderitaan manusia, yang menang melalui kasih dan pengorbanan, serta menyertai umat-Nya hingga akhir zaman.
Sebuah perenungan tentang peristiwa Paskah yang menegaskan bahwa kubur yang kosong adalah protes Allah terhadap keputusasaan. Melalui kebangkitan-Nya, Kristus membuktikan bahwa kegelapan dan maut tidak memiliki kuasa final atas hidup manusia.
Sebuah renungan Paskah yang kuat mengenai kemenangan Kristus atas maut, mengeksplorasi bagaimana kubur yang kosong menjadi pernyataan harapan Allah yang menghancurkan keputusasaan manusia dan mengubah setiap akhir menjadi awal yang baru.
A collection of reflections for Holy Monday and Tuesday, exploring the anointing of Jesus as our High Priest and the paradox of the Cross as the throne of divine glory.
Refleksi mendalam atas penyembuhan orang buta sejak lahir di Yohanes 9, mengeksplorasi bagaimana Kristus sebagai Sang Pencipta memulihkan kemanusiaan yang rusak dan membuka mata iman melalui rahmat-Nya.
Eksplorasi pemikiran Nicholas Wolterstorff tentang liturgi sebagai 'teologi implisit' dan sarana estetis untuk menghidupi klaim-klaim iman melalui tindakan serta keindahan bahasa.
Renungan kontemplatif berdasarkan Matius 7:7-12 dan Mazmur 138 tentang kepercayaan mendalam bahwa Tuhan sebagai Bapa yang baik akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya.